Mengapa Allah Tidak Menciptakan Semua Manusia Rezekinya Sama? Simak Penjelasannya Disini !


Pernahkah Anda berpikir mengapa Allah tidak menciptakan semua manusia yang lahir ke bumi ini ditakdirkan kaya semua? Atau sebaliknya, Allah menciptakan semua manusia miskin atau pas-pasan agar tidak ada istilah iri ketika melihat yang lain memiliki kelebihan?

Inilah yang akan dibahas pada artikel kali ini. Kami mencoba mencari jawabannya yang pas, salah satunya pembahasan dari Abdul Malik Al-Qasim, dkk dalam bukunya Kunci-kunci Pengundang Rezeki. Beliau, dalam bukunya tersebut mencoba memparkan alasan mengapa Allah tidak meratakan rezeki manusia di bumi ini. Penasaran dengan penjelasannya? Yuk, kita langsung simak uraian di bawah ini.

Wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan ketahuilah bahwa Allah mempunyai hikmah yang paripurna dalam penciptaan, takdir, menyempitkan dan melapangkan hamba-hamba-Nya. Dia memiliki hikmah yang sempurna dalam hal hukum dan pensyariatan. Semua hukum syariat-Nya adalah adil. Penuh rahmat dan mengandung hikmah kemaslahatan bagi para hamba di dunia dan akhirat mereka.

Bagi-Nya segala puji dalam hal menahan dan memberi rezeki. Para hamba wajib bersykur kepada Allah bila Dia melapangkan rezeki untuk mereka dan menunaikan kewajiban yang berkaitan dengan harta ini (yakni zakat). Seorang hamba juga harus bersabar bila rezeki mereka disempitkan oleh takdir Dzat yang Maha Esa lagi Maha Pencipta. Dia lebih mengetahui kemaslahatan mereka dan lebih sayang kepada mereka dibanding ibu-ibu mereka. Dzat yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana telah membagi rezeki kepada para hamba-Nya, diantara mereka ada yang dilonggarkan rezekinya dan ada yang disempitkan. Ini untuk satu hikmah yang sangat agung lagi mengagumkan. Allah membagi rezeki para hamba-Nya (tidak sama rata), agar dengan itu mereka tahu bahwa Dia adalah Dzat yang mengatur seluruh urusan. Dan, bahwa kunci-kunci langit dan bumi ada di tangan-Nya. Orang ini dilapangkan rezekinya, sedang yang lainnya disempitkan. Tidak ada yang menolak ketetapan dan takdir-Nya.

Allah yang Maha mengetahui lagi Maha bijaksana melapangkan rezeki untuk sebagian hamba-Nya dan menyempitkan sebagian yang lainm agar dengan adanya perbedaan di dunia ini mereka mengambil pelajaran akan adanya tingkat perbedaan di akhirat kelak. Manusia di dunia ini beragam keadaannya. Di antara mereka ada yang bertempat tinggal di istana-istana tinggi lagi megah, mengendarai kendaraan mewah lagi mahal, bergelimang harta dan bercengkerama dengan sanak saudaranya sera anak-anaknya dalam kegembiraan dan keceriaan. Ada yang tidak mempunyai rumahm sanak saudara, harta dan keturunan. Dan, di antara mereka mereka ada yang kondisinya pertengahan dengan tingkatan beragam. Namun demikian, tingkat perbedaan di akhirat itu lebih agung dan besar, lebih mulia dan kekal.

Bila akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya, maka sepantasnyalah kita saling berlomba meraih derajatnya yang tinggi dan kehidupannya yang kekal, itulah sebaik-baik dan sebagus-bagus pemahaman. Allah membagi rezeki tidak sama di antara hamba-Nya, agar yang kaya mengetahui kadar nikmat karunia Allah padanya, berupa pengutamaan, sehingga ia bersyukur kepada-Nya atas hal itu dan bergabung dengan orang-orang yang bersyukur. Dan, agar orang yang fakir mengetahui ujian yang ditimpakan Allah, berupa kemelaratan, lalu ia bersabar dan mendapatkan derajat (keutamaan) orang-orang yang sabar. Namun demikian, hendaklah ia tetap memohon kepada Rabbnya kemudahan dan menunggu kelapangan dari Rabb semesta alam.

Allah membagi rezeki tidak sama di antara hamba-Nya agar tegalah kemaslahatan agama dan duniawi mereka. Andai Dia melapangkan rezeki untuk seluruh hamba, niscaya mereka akan berbuat menyimpang di muka bumi dengan melakukan kekufuran, melampaui batas dan kerusakan. Jika Dia menyempitkan rezeki semua manusia, niscaya akan kacau dan runtuhlah sendi-sendi kehidupan mereka. Andai rezeki manusia pada derajat yang sama, tentu sebagian mereka tidak akan dapat mempergunakan jasa atau tenaga sebagian yang lain. Seseorang tidak akan berkarya untuk yang lain, tidak akan bekerja untuk yang lain, karena masing-masing berada pada satu tingkatan. Tidak seseorang pun lebih utama dibanding yang lain. Lantas di mana kasih sayang dari seorang kaya kepada yang fakir, bila kita asumsikan manusia semuanya dalam satu tingkatan yang sama dalam hal rezeki? Di manakah posisi agung yang bisa didapat dengan perbuatan-perbuatan menyambung tali silaturahim dengan kerabat dengan harta, bila semuanya dalam satu tingkatan yang sama dalam hal rezeki?

Sesungguhnya ini dan kemaslahatan berlipat ganda lainnya akan hilang andai manusia sama dalam hal rezeki. Akan tetapi Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui membagi berbeda rezeki di antara mereka. Dia memerintahkan orang-orang kaya agar bersyukur dan berinfak, serta memerintahkan orang-orang fakir bersabar dan menunggu kelapangan dari Dzat yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi Rezeki. Maka, wahai kaum muslimin, hendaklah kita ridha kepada-Nya dan ketetapan-Nya. Hendaklah kita ridha dengan-Nya sebagai penengah, kita mengimani hikmah-hikmah-Nya dan rahasia-rahasia milik-Nya.
Semangat menjemput rezeki :)

0 Response to "Mengapa Allah Tidak Menciptakan Semua Manusia Rezekinya Sama? Simak Penjelasannya Disini !"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel